rtmcpoldakepri.com – Sampit kembali tersentak oleh kabar duka. Seorang remaja berusia 18 tahun meregang nyawa setelah tenggelam di danau bekas galian C. Di tengah rutinitas warga Sampit, tragedi ini memaksa kita berhenti sejenak. Bukan sekadar angka dalam data kecelakaan, peristiwa tersebut menyimpan pesan kuat tentang keselamatan ruang publik, terutama area air bekas aktivitas tambang atau galian. Banyak warga mungkin menganggap lokasi semacam itu sebagai tempat rekreasi murah, padahal risiko mengintai setiap saat.
Peristiwa di Sampit ini seharusnya tidak berlalu begitu saja. Di balik cerita kehilangan, tersimpan pelajaran berharga bagi keluarga, tetangga, bahkan pemerintah daerah. Danau bekas galian C kerap terlihat tenang, namun menyimpan struktur dasar tidak beraturan, kedalaman ekstrem, serta lumpur pekat. Kondisi tersebut membuat korban mudah terseret hingga sulit muncul kembali ke permukaan. Tragedi remaja tersebut menjadi cermin rapuhnya sistem pengawasan lingkungan berisiko di sekitar Sampit.
Potret Danau Bekas Galian C di Sekitar Sampit
Sampit tumbuh sebagai kota yang lekat dengan aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam. Salah satu jejaknya, yaitu lubang-lubang bekas galian C yang kemudian terisi air hujan hingga membentuk danau buatan. Secara kasat mata, area ini tampak seperti kolam luas dengan air hijau kebiruan, menawarkan pemandangan berbeda bagi warga. Namun keindahan semu itu sering menyesatkan. Banyak orang tidak menyadari bahwa danau bekas tambang menyimpan karakter berbahaya, jauh dari standar lokasi wisata air layak kunjung.
Di kawasan sekitar Sampit, fenomena danau bekas galian C bukan hal baru. Lubang mengganga ditinggalkan setelah aktivitas pengambilan material konstruksi berakhir. Tanpa reklamasi memadai, area terbiar berubah menjadi kubangan besar. Seiring waktu, air hujan mengisi cekungan. Muncul lahau yang tampak seperti destinasi tersembunyi. Anak-anak maupun remaja sering menjadikannya tempat bermain, berenang, atau sekadar berkumpul. Minim papan peringatan, minim pagar batas, membuat siapa pun leluasa mendekat.
Tragedi tenggelam di Sampit memperlihatkan bagaimana kelalaian pengelolaan ruang bekas galian menjelma ancaman nyata. Permukaan air mungkin tenang, namun dasar danau berbentuk curam, tidak rata, dengan endapan lumpur tebal. Seseorang yang tidak mahir berenang mudah panik ketika pijakan tiba-tiba hilang. Arus pusaran halus di kedalaman juga bisa menarik tubuh ke bawah. Faktor ini sering luput dari perhatian warga karena tidak tampak kasat mata. Namun justru unsur tak terlihat itulah yang menjadi pemicu utama insiden tragis.
Kelemahan Pengawasan dan Budaya Keselamatan di Sampit
Insiden di Sampit menyingkap sisi lain persoalan: lemahnya budaya keselamatan publik. Banyak warga menganggap berenang di danau bekas galian sebagai aktivitas biasa. Padahal, tanpa pengawasan terlatih, tanpa perlengkapan pelampung, setiap lompatan ke air ibarat taruhan nyawa. Pemerintah daerah sering kali hanya hadir setelah insiden terjadi, melalui tim pencari atau relawan. Padahal pencegahan jauh lebih murah, sekaligus lebih manusiawi daripada evakuasi korban.
Di satu sisi, aparat memiliki keterbatasan anggaran maupun personel untuk mengawasi seluruh titik rawan sekitar Sampit. Namun di sisi lain, aspek edukasi keselamatan bisa digalakkan lebih serius. Sekolah, organisasi kepemudaan, hingga tokoh masyarakat sebenarnya dapat berperan besar mendorong kewaspadaan. Kampanye mengenai bahaya berenang di danau bekas galian, simulasi penyelamatan, dan pengenalan tanda-tanda lokasi berisiko tinggi dapat menumbuhkan kesadaran bersama. Tanpa dorongan kolektif, tragedi serupa rentan terulang.
Dari sudut pandang pribadi, insiden tenggelam di Sampit ini terasa ironis. Lubang bekas aktivitas ekonomi jangka pendek, yang mungkin dulu menghadirkan keuntungan, berubah menjadi sumber duka jangka panjang. Ini memperlihatkan kegagalan memandang ruang secara berkelanjutan. Lingkungan tidak sekadar objek eksploitasi, tetapi juga ruang hidup masyarakat. Ketika pengelolaan pasca-eksploitasi diabaikan, masyarakatlah yang membayar harga tertinggi, termasuk melalui kehilangan generasi muda.
Pelajaran Berharga Bagi Masa Depan Sampit
Tragedi remaja 18 tahun di danau bekas galian C Sampit seharusnya menjadi titik balik. Pemerintah daerah perlu memetakan seluruh lokasi serupa, memasang rambu tegas, menutup akses berbahaya, serta mendorong reklamasi nyata, bukan sekadar wacana. Warga Sampit pun perlu menahan keinginan memanfaatkan danau berisiko sebagai wahana rekreasi murah. Setiap keluarga bisa memulai percakapan terbuka mengenai bahaya lokasi air yang tidak resmi. Pada akhirnya, kehilangan satu nyawa muda di Sampit sudah lebih dari cukup sebagai alarm keras. Dari kejadian ini, kita diingatkan bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas, bahkan ketika godaan hiburan tampak menggoda. Kesadaran kolektif hari ini akan menentukan apakah Sampit menjadi kota yang belajar dari luka, atau kembali mengulang cerita duka yang sama.