alt_text: Menteri Ekraf bahas integrasi ruang hijau dan biru untuk masa depan kota berkelanjutan.

Menteri Ekraf, Ruang Hijau-Biru, dan Masa Depan Kota

0 0
Read Time:4 Minute, 38 Second

rtmcpoldakepri.com – Isu lingkungan tidak lagi berdiri terpisah dari ekonomi kreatif. Saat menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru, pesan penting tersampaikan: kreativitas perlu rumah sehat. Ruang hijau serta biru bukan sekadar taman atau sungai bersih, tetapi ekosistem hidup untuk pelaku kreatif, komunitas, serta warga kota. Kebijakan hijau kini menyatu dengan strategi ekonomi, pariwisata, hingga gaya hidup generasi muda.

Ketika menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru, arah pembangunan kota ikut bergeser. Bukan hanya gedung tinggi yang dihitung, melainkan kualitas udara, akses ruang publik, serta kenyamanan berjalan kaki. Kota kreatif memerlukan lanskap ramah manusia, bukan hutan beton. Di titik inilah kebijakan ekraf mulai menyentuh hal yang lebih mendasar: hak warga atas lingkungan sehat sekaligus ruang ekspresi.

Mengapa Ruang Hijau dan Biru Penting bagi Ekonomi Kreatif?

Mendengar frasa menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru, sebagian orang mungkin menganggapnya sekadar jargon. Namun, bila ditelusuri lebih jauh, ruang hijau dan biru berperan langsung pada produktivitas kreator. Penelitian menunjukkan lingkungan asri membantu mengurangi stres, memicu ide segar, serta meningkatkan fokus. Kreativitas jarang muncul di tengah polusi berat maupun suhu ekstrem.

Ruang terbuka hijau memberi tempat bagi komunitas seni berkumpul. Di sana, seniman jalanan, musisi, fotografer, hingga perancang busana sering mengambil inspirasi. Sementara itu, ruang biru – seperti sungai bersih, danau, atau pantai – menghadirkan lanskap visual kuat untuk karya visual serta promosi pariwisata kreatif. Maka ketika menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru, ekosistem kreatif ikut memperoleh panggung.

Dari sudut pandang ekonomi, kota dengan jaringan ruang hijau dan biru kuat cenderung menarik wisatawan berkualitas. Mereka tidak sekadar datang untuk berbelanja, tetapi juga mengalami suasana kota yang menenangkan. Hal ini membuka peluang usaha baru: tur kreatif, pasar komunitas, festival seni, hingga kafe tematik ramah lingkungan. Kebijakan lingkungan akhirnya menjelma mesin ekonomi, bila dikelola dengan visi jangka panjang.

Sinergi Kebijakan: Dari Kementerian ke Komunitas

Pernyataan menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru harus dibaca sebagai undangan kolaborasi. Pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah daerah, komunitas kreatif, hingga pelaku usaha lokal perlu dilibatkan. Idealnya, setiap kota memiliki peta jalan pengembangan ruang terbuka terintegrasi dengan agenda ekraf. Bukan proyek sporadis, melainkan rencana menyeluruh.

Contoh konkret, area tepi sungai dapat disulap menjadi jalur pejalan kaki, ruang pamer seni, hingga arena pertunjukan musik akustik berkala. Taman kota bisa dirancang ulang dengan fasilitas workshop terbuka, area membaca, hingga spot mural legal. Ketika menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru, kebijakan perizinan acara kreatif di ruang publik seharusnya ikut dipermudah, tanpa mengabaikan aturan kebersihan serta keamanan.

Di titik ini, saya melihat peran komunitas sangat krusial. Penggerak lokal lebih memahami kebutuhan lingkungan sekitar. Mereka mampu merancang program kecil namun konsisten: kelas seni mingguan, bazar produk kreatif, hingga tur edukasi lingkungan. Dukungan kementerian sebaiknya berbentuk fasilitasi, pendanaan terbatas, serta pelatihan manajemen acara. Sinergi semacam ini memungkinkan gerakan hijau-biru tumbuh organik, bukan hanya instruksi dari atas.

Tantangan: Gentrifikasi, Sampah, dan Ketimpangan Akses

Walau menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru terdengar menjanjikan, sejumlah tantangan tak bisa diabaikan. Pertama, risiko gentrifikasi. Kawasan yang berhasil dipercantik sering berubah menjadi area mahal. Pelaku kreatif kecil justru tergusur oleh bisnis besar. Alih-alih menjadi ruang inklusif, area hijau-biru bisa bergeser menjadi ruang eksklusif bagi kelas menengah atas.

Kedua, isu sampah serta perilaku pengunjung. Banyak taman baru akhirnya kotor karena pengelolaan lemah dan budaya buang sampah sembarangan masih kuat. Di sini, gerakan hijau-biru harus dibarengi edukasi. Program kreatif bisa disinergikan dengan kampanye lingkungan. Misalnya, lomba desain poster anti-sampah, pameran karya dari limbah, atau pertunjukan teater bertema ekologi. Kreativitas menjadi medium perubahan perilaku.

Ketiga, ketimpangan akses antarwilayah. Beberapa kota besar mungkin mendapat prioritas pengembangan ruang hijau-biru, sedangkan kota kecil tertinggal. Bila menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru secara merata, perlu skema afirmatif bagi daerah pinggiran atau kota dengan anggaran minim. Pendampingan teknis, panduan desain murah, serta program inkubasi komunitas bisa menjadi solusi awal.

Ekonomi Kreatif Hijau: Dari Narasi ke Praktik

Slogan menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru harus diterjemahkan dalam praktik bisnis. Pelaku ekraf perlu mengadopsi prinsip ramah lingkungan pada rantai produksi. Mulai dari pemilihan bahan, pengemasan, hingga distribusi. Toko suvenir dekat taman bisa menggunakan kemasan daur ulang, kafe di tepi sungai dapat mengurangi plastik sekali pakai.

Selain itu, ruang hijau-biru memberi panggung bagi model bisnis baru. Misalnya, studio kreatif menawarkan paket foto bertema alam kota, atau komunitas arsitek muda memberi jasa konsultasi desain taman mikro di lingkungan padat. Dengan cara ini, ide menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru bertransformasi menjadi peluang pendapatan berkelanjutan bagi banyak pihak.

Saya percaya, keberhasilan program ini bergantung pada seberapa jauh pemerintah berani memberi insentif bagi praktik hijau. Diskon pajak usaha ramah lingkungan, bantuan promosi bagi event kreatif di ruang publik, hingga kemudahan akses kredit hijau bisa menjadi pendorong kuat. Tanpa insentif, narasi hijau mudah berhenti di tingkat seremoni saja.

Menuju Kota yang Layak Huni dan Layak Berkarya

Pada akhirnya, menteri ekraf dukung gerakan pengembangan ruang terbuka hijau dan biru membuka wacana lebih luas: seperti apa kota ideal yang ingin kita tinggali? Bagi saya, jawabannya sederhana namun menantang. Kota tersebut harus layak huni sekaligus layak berkarya. Udara bersih, pepohonan rindang, air mengalir jernih, serta ruang publik aman merupakan kebutuhan dasar. Di atas pondasi itu, ekonomi kreatif dapat tumbuh sehat, memberi nilai tambah ekonomi tanpa merusak lingkungan. Refleksi pentingnya, kita tidak boleh puas hanya dengan peresmian taman baru atau festival sekali setahun. Gerakan hijau-biru butuh konsistensi, partisipasi, serta imajinasi bersama agar kota masa depan tidak sekadar indah difoto, tetapi benar-benar nyaman dijalani.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Back To Top