rtmcpoldakepri.com – Karhutla kembali menghantui Kalimantan Timur. Ratusan hektare hutan serta lahan terbakar, asap mengepung kawasan permukiman, lalu status kewaspadaan naik ke kategori sedang. Di atas kertas, peningkatan status ini terlihat teknis semata. Namun di balik angka dan istilah resmi, terdapat kisah rapuhnya tata kelola ruang hidup, plus kegagalan kolektif mencegah bencana berulang. Karhutla bukan sekadar berita musiman; ia potret hubungan timpang antara manusia, alam, serta kepentingan ekonomi jangka pendek.
Kebakaran hutan mungkin terasa jauh bagi warga kota ber-AC, tetapi sebaran asap melintasi batas administrasi. Kaltim mengalaminya lagi, luas lahan hangus terus bertambah. Karhutla memicu gangguan kesehatan, merusak keanekaragaman hayati, mengganggu aktivitas pelabuhan, bahkan mengancam reputasi Indonesia di mata dunia. Pertanyaan krusial pun muncul: sampai kapan kita memaklumi pola karhutla berulang, lalu sekadar sibuk memadamkan api, tanpa berani menyentuh akar masalah di hulu?
Karhutla Kaltim: Angka, Asap, Serta Realitas di Lapangan
Luas lahan terbakar mencapai ratusan hektare, angka resmi terbaru menyebut sekitar 752 hektare hangus. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi representasi pohon tumbang, satwa kehilangan habitat, serta emisi karbon lepas ke atmosfer. Setiap titik api karhutla Kaltim menandai titik lemah pengawasan ruang, mulai kawasan gambut hingga semak belukar. Di daerah rentan, percikan kecil cepat menjelma amukan api, terutama saat musim kering berkepanjangan.
Naiknya status kewaspadaan ke kategori sedang menunjukkan otoritas mulai menyadari situasi genting. Artinya, potensi karhutla meluas semakin besar sehingga sumber daya penanggulangan perlu ditambah. Namun istilah “sedang” berisiko meninabobokan publik, seolah ancaman belum serius. Padahal kualitas udara bisa jatuh sewaktu-waktu, terutama ketika arah angin berubah. Status sedang sering kali terasa seperti alarm setengah bunyi, belum cukup keras memaksa semua pemangku kepentingan bertindak cepat.
Di lapangan, petugas pemadam, relawan, serta masyarakat lokal berjibaku menghalau api. Medan sulit, akses menuju titik karhutla kerap terbatas, jaringan komunikasi pun tidak selalu stabil. Bahkan untuk mengirim satu unit mobil pemadam kadang memakan waktu panjang karena infrastruktur minim. Upaya pemadaman udara lewat helikopter water bombing membantu, tetapi biaya besar menguras anggaran. Pada akhirnya, sistem penanggulangan yang bergantung pemadaman tanpa pencegahan efektif ibarat menambal ban bocor berulang kali tanpa mengganti ban.
Menguliti Akar Masalah Karhutla di Kaltim
Karhutla bukan kejadian spontan. Ada pola berulang terkait perubahan fungsi lahan, praktik pembukaan kebun dengan cara membakar, serta lemahnya penegakan hukum. Di beberapa kawasan, membakar dianggap cara paling murah meratakan semak. Ketika musim kering tiba, api kecil di sudut lahan rawan menjalar ke hutan sekitar. Kaltim yang kaya sumber daya alam menyimpan ironi besar: kekayaan itu justru memicu tekanan berlebih pada kawasan hutan, sehingga membuka celah karhutla terus terjadi.
Sudut pandang pribadi saya, diskusi karhutla terlalu sering berhenti di slogan “jangan bakar hutan”. Seruan ini benar, tetapi tidak cukup menyentuh lapisan paling dalam, yaitu struktur ekonomi rakyat kecil. Bagi petani dengan modal tipis, opsi pembukaan lahan ramah lingkungan sering hanya wacana. Tanpa dukungan teknologi sederhana, pembiayaan, serta pendampingan, larangan bakar terasa seperti beban tambahan. Di sisi lain, korporasi besar dengan modal kuat justru lebih mudah mengelola citra hijau, meski jejak masa lalu belum tentu bersih.
Akar masalah lain yaitu tata kelola perizinan. Fragmentasi kewenangan menimbulkan ruang abu-abu, sehingga pengawasan jadi kurang tajam. Ketika izin tumpang tindih, area buffer rentan karhutla sering tidak jelas penanggung jawab. Di sini, karhutla berubah dari persoalan teknis menjadi problem politik ruang. Tanpa keberanian menata ulang perizinan, komitmen pencegahan karhutla riskan berhenti di kertas. Kaltim membutuhkan peta jalan berani, bukan hanya daftar imbauan tahunan.
Karhutla, Iklim, dan Masa Depan Kaltim
Karhutla memiliki dimensi iklim yang sering luput dari perbincangan sehari-hari. Setiap hektare lahan terbakar menyumbang emisi gas rumah kaca signifikan, terutama bila melibatkan gambut. Untuk Kaltim yang sedang menyiapkan diri menyambut Ibu Kota Nusantara, reputasi terkait lingkungan menjadi taruhan besar. Jika karhutla terus berulang, klaim pembangunan kota masa depan hijau akan mudah dipertanyakan. Refleksi akhirnya kembali pada kita semua: mau terus berdamai dengan siklus kebakaran tahunan, atau berani mengubah kebiasaan. Kesimpulan pahitnya, solusi karhutla tidak sesederhana menambah armada pemadam, melainkan menata ulang cara kita memandang hutan sebagai ruang hidup, bukan sekadar cadangan lahan ekonomi. Hanya lewat kesadaran kolektif, keberanian politik, serta keberpihakan pada masyarakat lokal, Kaltim dapat keluar dari jerat karhutla yang terus mengintai.