alt_text: Warga Kalsel bertahan di tepi air usai banjir, menanti bantuan dan memulihkan kehidupan.

Bertahan Pasca Banjir Kalsel: Kisah dari Tepi Air

0 0
Read Time:3 Minute, 28 Second

rtmcpoldakepri.com – Air mungkin sudah surut di banyak titik, namun ribuan keluarga di Kalimantan Selatan masih tetap #bertahan dengan sisa-sisa bencana. Di antara lumpur, dinding rumah yang retak, serta perabotan rusak, mereka memulai hari baru dengan langkah pelan namun pasti. Banjir besar bukan hanya meninggalkan jejak material, tetapi juga luka batin, kehilangan rasa aman, dan ketidakpastian masa depan. Meski begitu, setiap pagi terlihat tanda kecil keberanian: tikar digelar, dapur darurat dibangun, anak-anak kembali bermain di sela-sela puing.

Kisah #bertahan ini bukan sekadar tentang angka pengungsi atau luas wilayah terdampak. Ini tentang bagaimana sebuah komunitas menata ulang hidup setelah air menghanyutkan hampir segala hal. Di Kalsel, suara mesin pompa, cangkul yang mengais lumpur, hingga doa yang lirih terdengar di banyak sudut kampung. Mereka tidak menunggu keajaiban turun dari langit. Mereka membangun kembali, setapak demi setapak, meski hujan masih sering turun membawa cemas. Di sinilah wajah sejati ketangguhan warga terlihat paling jelas.

Potret Warga yang Tetap Bertahan

Ribuan keluarga kini menjalani hari dengan pola hidup berbeda. Sebagian memilih bertahan di rumah yang sebagian rusak, lainnya masih menempati posko atau rumah kerabat. Setiap pilihan memiliki risiko, namun rasa terikat pada rumah membuat banyak orang enggan pergi jauh. Di dapur seadanya, ibu-ibu memasak lauk sederhana, sering kali mengandalkan bantuan logistik yang datang tidak menentu. Anak-anak belajar menerima kenyataan, tidur di tikar tipis, berbagi selimut, sambil mendengar cerita dewasa mengenai rencana perbaikan rumah.

Di sudut lain, beberapa warga memutuskan membangun gubuk darurat di halaman rumah sendiri. Struktur kayu, terpal plastik, serta seng bekas menjadi tempat #bertahan yang baru. Mereka tidak ingin terpisah terlalu lama dari lahan, ternak, atau perabot yang masih bisa diselamatkan. Keterikatan terhadap tanah nenek moyang menjadi alasan utama. Rumah mungkin rusak, tetapi ikatan dengan kampung halaman terasa jauh lebih kuat dibanding rasa takut terhadap banjir susulan. Di balik keputusan tersebut, terdapat tekad untuk menjaga identitas dan harga diri.

Saya melihat situasi ini sebagai cermin kegigihan sekaligus keterbatasan. Kegigihan karena, dengan sarana minim, warga memilih bertahan demi menjaga kesinambungan hidup. Keterbatasan karena infrastruktur penanganan bencana sering kali belum menjangkau sampai akar masalah. Banyak keluarga berdiri di antara dua dunia: satu kaki ingin pindah ke tempat lebih aman, kaki lain terpaku oleh kenangan, usaha kecil, serta kuburan leluhur. Di sanalah pergulatan emosional terjadi setiap hari, jauh dari sorotan kamera.

Tantangan Hidup Sehari-hari Setelah Air Surut

Banyak orang mengira bencana selesai saat air kembali ke sungai. Realitas di Kalsel jauh lebih rumit. Lumpur tebal menutup lantai, perabot kayu lapuk, kabel listrik menggantung berbahaya. Keluarga yang masih #bertahan bergulat dengan sanitasi buruk serta ancaman penyakit. Air bersih menjadi komoditas berharga. Sumur terkontaminasi, sehingga warga mengandalkan kiriman tangki atau air galon. Setiap tetes dimanfaatkan cermat untuk minum, memasak, serta mencuci peralatan.

Dari sisi ekonomi, dampak banjir terasa menyakitkan. Warung kecil kehilangan stok, petani kehilangan lahan siap panen, nelayan sungai kehilangan alat tangkap. Pendapatan menurun drastis, sementara kebutuhan dasar meningkat. Keluarga terpaksa menyusun ulang prioritas: menunda biaya sekolah, menekan pengeluaran lauk, serta menjual barang sisa yang masih memiliki nilai. Di tengah tekanan tersebut, sikap saling bantu antartetangga sering kali menjadi “jaring pengaman” paling nyata, melebihi program resmi.

Pada titik ini, saya melihat betapa pentingnya memahami fase pascabencana sebagai proses panjang, bukan sekadar penyaluran bantuan awal. Warga yang berusaha bertahan memerlukan dukungan berlapis. Mulai dari pemulihan ekonomi mikro, konseling psikologis, hingga pendampingan untuk mengakses hak atas hunian layak. Tanpa itu, mereka berisiko terjebak dalam lingkaran kemiskinan baru. Banjir besar tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mendorong pergeseran sosial ekonomi generasi mendatang jika tidak direspons serius.

Membaca Ulang Arti #Bertahan di Tengah Krisis

Melihat kondisi ribuan keluarga yang masih #bertahan pasca banjir di Kalsel, saya merasa istilah bertahan perlu dimaknai lebih luas. Bukan sekadar tidak menyerah, melainkan keberanian untuk menuntut hak atas lingkungan aman, tata ruang adil, serta kebijakan sungguh berpihak pada warga rentan. Ketangguhan sosial warga patut diapresiasi, namun tidak boleh dijadikan alasan membiarkan mereka berjibaku sendirian di garis depan bencana berikutnya. Pada akhirnya, refleksi paling penting adalah keberanian kita, sebagai masyarakat luas, untuk mengubah rasa iba menjadi gerakan konsisten: mengawal kebijakan, mengurangi jejak kerusakan lingkungan, serta membantu tetangga di wilayah rawan agar esok mereka tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga benar-benar pulih dan maju.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Back To Top