rtmcpoldakepri.com – Sinergi pemasyarakatan bukan sekadar jargon birokrasi. Konsep ini mulai bergerak menjadi gerakan nyata lewat pengukuhan Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) di wilayah Kalimantan Tengah. Di balik seremonial, terdapat pesan kuat mengenai peran keluarga, terutama sosok ibu, sebagai garda depan ketahanan moral serta sosial warga binaan maupun petugas pemasyarakatan.
Penguatan peran PIPAS menunjukkan bahwa pembinaan tidak cukup berhenti di balik jeruji. Ketika keluarga dirangkul, sinergi pemasyarakatan melebar ke ruang-ruang domestik, lingkungan sekitar, hingga komunitas luas. Dampaknya, proses reintegrasi sosial menjadi lebih manusiawi, berkelanjutan, juga berakar pada nilai kekeluargaan lokal yang selama ini sering terabaikan.
Makna Strategis PIPAS dalam Sinergi Pemasyarakatan
PIPAS hadir sebagai jembatan emosi antara rumah, lembaga pemasyarakatan, serta masyarakat. Organisasi ini memberi ruang bagi istri, ibu, maupun anggota keluarga petugas pemasyarakatan untuk terlibat aktif. Sinergi pemasyarakatan kemudian tidak hanya bertumpu pada regulasi, tetapi juga pada empati, kepedulian, dan solidaritas. Ketika keluarga petugas kuat, dukungan terhadap tugas pembinaan warga binaan ikut menguat.
Di sisi lain, PIPAS mendorong lahirnya inisiatif sosial yang menyentuh kebutuhan riil keluarga warga binaan. Misalnya, program edukasi pengasuhan, pendampingan psikologis sederhana, hingga pelatihan keterampilan rumah tangga. Skema seperti ini berkontribusi pada ketahanan keluarga. Anak, istri, atau orang tua warga binaan tidak merasa ditinggalkan sistem, melainkan dirangkul sebagai bagian dari sinergi pemasyarakatan yang utuh.
Dari sudut pandang kebijakan, pengukuhan PIPAS mencerminkan pergeseran paradigma. Pemasyarakatan tidak dipandang sebatas pengelolaan narapidana, melainkan ekosistem besar yang mencakup keluarga serta lingkungan sosial. Pendekatan komunal ini sejalan dengan konsep keadilan restoratif. Fokus tidak hanya pada kesalahan, tetapi juga pemulihan hubungan, pemulihan martabat, serta pemberian kesempatan kedua.
Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Pembinaan
Ketahanan keluarga menjadi inti dari sinergi pemasyarakatan. Warga binaan yang memiliki dukungan keluarga umumnya lebih siap menjalani proses pembinaan. Mereka memiliki alasan kuat untuk berubah, yaitu kembali pada keluarga yang menunggu. Di sisi lain, keluarga yang kuat secara emosional maupun ekonomi lebih mampu menerima, memaafkan, lalu menjadi bagian solusi, bukan sekadar korban keadaan.
PIPAS berpotensi menginisiasi program yang menyasar isu sensitif, seperti stigma sosial terhadap keluarga warga binaan. Pendekatan komunitas sesama ibu dapat menjadi ruang aman berbagi cerita, strategi bertahan, hingga peluang ekonomi kreatif. Kehadiran jaringan dukungan semacam ini memperkecil risiko keluarga terjerumus pada lingkaran masalah serupa, misalnya kriminalitas atau kekerasan domestik.
Dari perspektif pribadi, langkah seperti pengukuhan PIPAS patut diapresiasi sekaligus dikritisi secara konstruktif. Apresiasi, karena sinergi pemasyarakatan akhirnya menyentuh sisi kemanusiaan paling dasar, yaitu keluarga. Kritik, karena keberhasilan tidak cukup diukur dari seremoni atau susunan kepengurusan. Diperlukan indikator nyata: penurunan residivisme, peningkatan kesejahteraan keluarga warga binaan, sampai tumbuhnya lingkungan yang lebih inklusif.
Sinergi Pemasyarakatan dan Agenda Sosial Jangka Panjang
Bila ingin berumur panjang, sinergi pemasyarakatan melalui PIPAS harus dilihat sebagai agenda sosial lintas generasi. Program sebaiknya diarahkan pada penguatan literasi keluarga, kesehatan mental, serta kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Kolaborasi dengan sekolah, lembaga keagamaan, hingga pelaku usaha lokal dapat membuka ruang kreasi yang lebih luas. Pada akhirnya, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari tertibnya lapas, tetapi dari kemampuan masyarakat menerima kembali, memulihkan, serta memberi ruang tumbuh bagi setiap orang yang pernah tersesat. Di titik inilah, keluarga dan PIPAS menjadi penentu arah perubahan.