Bangkit dari Narkoba, Ririen Mengubah Luka Jadi Karya
rtmcpoldakepri.com – Kisah tentang narkoba sering kali berakhir tragis. Namun, cerita hidup Ririen Binti menunjukkan sisi lain: harapan. Dari seorang mantan pecandu yang sempat terpuruk, ia menjelma menjadi Ketua Global Drug Addiction Network (GDAN). Jalur ini tidak mudah, tetapi justru di sanalah letak kekuatan kisahnya. Ia membuktikan, masa lalu kelam akibat narkoba tidak harus mengunci masa depan. Sebaliknya, pengalaman pahit dapat diolah menjadi energi besar untuk menolong banyak orang.
Pada titik terendah hidupnya, narkoba merenggut harga diri, kepercayaan keluarga, hingga rasa berdaya. Namun, titik balik muncul ketika ia menyadari bahwa terus tenggelam hanya memperpanjang lingkaran sakit. Dari proses rehabilitasi, pemulihan, lalu terjun sebagai pegiat anti narkoba, Ririen mengubah trauma menjadi panggilan hidup. Hari ini, ia memimpin jejaring global, mengadvokasi korban, serta menantang stigma yang sering menjerat para penyintas narkoba. Perjalanan ini layak dibaca ulang sebagai cermin bagi siapa pun.
Setiap orang punya titik awal berbeda ketika berhadapan dengan narkoba. Ada yang terjebak karena rasa ingin tahu, ada pula yang tergelincir akibat tekanan hidup. Ririen tidak lahir sebagai aktivis. Ia pernah berada di sisi seberang: memasuki dunia gelap narkoba, terjebak kebiasaan destruktif, lalu kehilangan banyak hal berharga. Justru pengalaman menjadi pecandu membuatnya paham betapa rumit realitas di balik angka statistik. Ia pernah merasakan tatapan menghakimi, pintu pekerjaan yang tertutup, juga dinginnya penolakan sosial.
Proses pemulihan dari narkoba jarang lurus. Banyak orang mengalami kambuh, jatuh bangun, bahkan menyerah di tengah jalan. Ririen memilih jalur berbeda. Ia memanfaatkan fase pemulihan untuk membangun ulang identitas diri. Bukan lagi sebagai “pecandu narkoba”, tetapi sebagai manusia utuh yang punya nilai. Ia mengikuti program rehabilitasi, belajar soal pemulihan, kesehatan mental, juga dukungan sebaya. Saat mulai pulih, ia menyadari ada kekosongan layanan yang ramah bagi korban. Kekosongan itu kelak mendorongnya membangun jaringan lebih luas.
Dari perjalanan panjang tersebut, lahir keberanian untuk bicara secara terbuka mengenai masa lalu dengan narkoba. Kejujuran ini tidak tanpa risiko. Banyak penyintas memilih diam karena takut dicap negatif. Namun, keterbukaan Ririen justru mematahkan stereotip. Ia menjadikan kisah pribadi sebagai alat edukasi publik. Menurut saya, di sini letak kekuatan utamanya: mengubah aib menjadi alat kampanye, mengubah rasa malu menjadi ruang dialog. Pada saat banyak orang sibuk menghakimi pengguna narkoba, ia justru hadir menawarkan empati serta solusi.
Kepemimpinan Ririen di Global Drug Addiction Network tidak lahir seketika. Jejaring ini muncul dari pertemuan banyak individu dengan latar belakang serupa: pernah bersinggungan dengan narkoba, lalu berkomitmen pada pemulihan. GDAN menghubungkan penyintas, keluarga, relawan, juga tenaga profesional lintas negara. Fokusnya bukan sekadar mengutuk narkoba, melainkan menciptakan ekosistem dukungan yang manusiawi. Mereka memahami, kecanduan bukan sekadar problem moral, tetapi isu kesehatan, sosial, serta ekonomi.
Melalui GDAN, Ririen mendorong perubahan cara pandang terhadap korban narkoba. Pendekatan hukuman semata sering kali gagal memutus siklus penyalahgunaan. Penjara bisa memperburuk trauma tanpa memberikan keterampilan hidup baru. Di sini, GDAN menekankan pemulihan berbasis komunitas, konseling, pendidikan, juga pemberdayaan ekonomi. Bagi saya, orientasi seperti ini jauh lebih relevan. Narkoba tumbuh subur di ruang kosong: ketika orang tidak punya harapan, pekerjaan layak, atau tempat bercerita.
Program GDAN juga menyasar keluarga, bukan hanya pengguna narkoba. Sering kali keluarga menjadi pihak pertama yang terluka, tetapi juga pihak pertama yang diharapkan memberi dukungan. Tanpa pengetahuan memadai, keluarga bisa terjebak pada kemarahan, rasa malu, atau penolakan. Melalui pelatihan serta pendampingan, GDAN membantu keluarga membangun komunikasi yang lebih sehat. Di titik ini, pendekatan mereka terasa menyentuh akar persoalan. Narkoba bukan hanya urusan individu, melainkan persoalan relasi, lingkungan, serta sistem.
Hingga hari ini, stigma terhadap pecandu narkoba masih mengakar kuat. Mereka sering dipandang sebagai sampah masyarakat, ancaman keamanan, atau sumber masalah. Narasi seperti itu membuat banyak penyintas takut mencari bantuan. Ririen menantang pola pikir ini lewat kesaksian hidup. Ia membuktikan, orang yang pernah jatuh karena narkoba tetap bisa bangkit, memimpin, bahkan menginspirasi. Menurut saya, ini contoh nyata mengapa kita perlu lebih banyak cerita positif mengenai pemulihan.
Media kerap menyoroti kasus kejahatan terkait narkoba, tetapi jarang memberi panggung bagi kisah pemulihan. Akibatnya, publik hanya mengenal satu wajah: sisi gelap. Padahal, di balik itu ada ribuan orang yang sedang berjuang berhenti memakai narkoba, mengikuti rehabilitasi, serta membangun ulang hidupnya. Kisah seperti milik Ririen membantu menyeimbangkan wacana. Bukan untuk menutup mata terhadap bahaya narkoba, tetapi menunjukkan bahwa harapan selalu mungkin, bahkan setelah kerusakan terjadi.
Saya melihat, perubahan narasi ini berdampak langsung pada kebijakan. Ketika publik mulai menyadari bahwa kecanduan narkoba merupakan isu kesehatan, dorongan untuk menyediakan layanan rehabilitasi akan menguat. Lembaga seperti GDAN bisa menjadi mitra penting pemerintah, sekolah, bahkan tempat ibadah. Mereka menghadirkan perspektif dari orang-orang yang pernah berada di garis depan: merasakan sakau, kehilangan, lalu pelan-pelan sembuh. Suara-suara ini penting sebagai penyeimbang diskusi yang selama ini dikuasai perspektif hukum semata.
Satu hal menarik dari sosok Ririen ialah keberaniannya mengakui keterlibatan di dunia narkoba masa lalu tanpa glorifikasi. Ia tidak memoles kisah agar tampak heroik. Sebaliknya, ia jujur tentang rasa hancur, penolakan, juga konsekuensi keras. Kejujuran seperti ini membuat pesan pencegahannya lebih kuat. Remaja cenderung skeptis terhadap kampanye anti narkoba yang kaku. Namun, mereka akan lebih mendengar sosok yang pernah terjun lalu kembali. Di ruang itu, pengalaman Ririen menjadi aset edukatif sangat berharga.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat perjalanan Ririen sebagai bukti bahwa kebijakan war on drugs yang hanya mengandalkan penindakan tidak cukup. Ia adalah hasil dari pendekatan pemulihan, bukan semata hukuman. Tanpa akses rehabilitasi, mungkin ia tetap terjebak dalam lingkaran narkoba. Ini memberi sinyal kuat bahwa investasi pada layanan kesehatan jiwa, konseling, serta program reintegrasi sosial sangat penting. Bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan pendampingan jangka panjang.
Pelajaran lain ialah pentingnya komunitas sebaya bagi mantan pengguna narkoba. Dukungan teman yang mengerti rasa sakau, rasa takut gagal, hingga rasa bersalah pada keluarga, sering kali lebih efektif daripada ceramah moral. Ririen memfasilitasi ruang semacam ini melalui GDAN. Di sana, orang bisa bercerita tanpa takut dijudge. Menurut saya, inilah bentuk nyata harm reduction: mengurangi dampak buruk narkoba sekaligus membantu orang perlahan menjauh darinya, tanpa tekanan berlebihan.
Jika ditelaah lebih jauh, persoalan narkoba tidak berdiri sendiri. Ia sering berjalin dengan kemiskinan, ketimpangan kesempatan, kekerasan domestik, hingga minimnya akses pendidikan. Banyak orang lari ke narkoba sebagai cara singkat meredakan rasa sakit emosional. Perjalanan Ririen menyadarkan kita, penanganan harus menyentuh akar masalah. Upaya pencegahan perlu terhubung dengan pemberdayaan ekonomi, layanan psikologis terjangkau, serta kebijakan yang mendukung kehidupan layak.
Saya menilai, kisah bangkit seperti ini penting diangkat bukan hanya sebagai inspirasi, tetapi sebagai bahan evaluasi kebijakan. Berapa banyak orang yang sebenarnya bisa pulih dari narkoba bila mendapat kesempatan sama seperti Ririen? Berapa banyak yang berakhir di penjara tanpa pernah disentuh program rehabilitasi memadai? Pertanyaan-pertanyaan sulit ini seharusnya mendorong perubahan arah kebijakan publik, dari sekadar menakut-nakuti menuju pendekatan berbasis bukti.
Harapan baru muncul ketika ada figur yang berani berjalan di depan, menunjukkan bahwa kehidupan setelah narkoba bukan ilusi. Ririen menjadi salah satu wajah harapan itu. Tidak sempurna, mungkin masih berjuang tiap hari, tetapi konsisten bergerak. Bagi generasi muda, sosok seperti ini memberikan pesan jelas: terjebak bukan akhir. Bantuan tersedia, komunitas menunggu, pemulihan mungkin. Namun, keberanian langkah pertama tetap harus datang dari diri sendiri.
Pada akhirnya, kisah Ririen Binti sebagai mantan pecandu narkoba yang kini memimpin GDAN mengingatkan bahwa manusia selalu lebih besar daripada kesalahannya. Narkoba mungkin pernah merusak sebagian hidupnya, tetapi ia memilih tidak mengizinkan masa lalu mengatur seluruh masa depan. Dari sudut pandang saya, di situlah letak keajaiban pemulihan: bukan menghapus jejak luka, melainkan menjadikannya kompas untuk menolong orang lain keluar dari kegelapan serupa. Refleksi penting bagi kita semua: alih-alih menghakimi, mengapa tidak membuka ruang dialog, mendukung rehabilitasi, serta memberi kesempatan kedua bagi mereka yang ingin lepas dari cengkeraman narkoba?
rtmcpoldakepri.com – Balap liar bukan sekadar aksi memacu gas di jalan kosong. Di Palangka Raya,…
rtmcpoldakepri.com – Kata “salah” sering menempel pada anak tanpa disadari. Terucap saat kita panik, lelah,…
rtmcpoldakepri.com – Nama prokalteng kembali ramai dibicarakan setelah muncul kabar rencana aksi warga Kereng Bangkirai,…
rtmcpoldakepri.com – Kasus dugaan pencabulan kembali mencoreng dunia pendidikan. Kali ini, sosok yang seharusnya menjadi…
rtmcpoldakepri.com – Gunungkidul kembali mencuri perhatian lewat program bansos makan gratis selama sebulan bagi ribuan…
rtmcpoldakepri.com – Lakalantas kembali menyita perhatian publik, kali ini di kawasan Sabangau. Sebuah pick up…