rtmcpoldakepri.com – Kata “salah” sering menempel pada anak tanpa disadari. Terucap saat kita panik, lelah, atau takut, lalu pelan-pelan mengendap sebagai luka psikologis. Pada anak-anak penyintas bencana alam, kata itu bisa terasa jauh lebih berat. Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman. Di titik rapuh seperti ini, satu tudingan “kamu salah” mampu menghantam rasa percaya diri hingga runtuh.
Kehadiran tokoh seperti Kak Seto di Sumatera Barat mengingatkan kita bahwa penanganan pascabencana tidak cukup berhenti pada logistik. Ada dunia batin anak yang sering salah kita baca, salah kita respon, bahkan salah kita nilai. Tulisan ini mengupas mengapa pemulihan psikologis anak penyintas bencana sangat penting, bagaimana pendekatan ramah anak bekerja, dan apa yang bisa kita pelajari untuk mengubah kata “salah” menjadi pintu pemulihan.
Membaca Ulang Kata “Salah” di Tengah Puing Bencana
Setelah bencana, suasana posko biasanya hiruk-pikuk. Orang dewasa sibuk mengurus bantuan, mencatat data, mengurus keluarga. Di tengah situasi itu, anak kerap diposisikan sekadar pengikut. Saat mereka berlari, bertanya, atau menangis, respon spontan yang muncul tidak jarang bernada menyalahkan. Padahal, perilaku tersebut adalah cara alami anak memproses trauma. Menilai reaksi mereka sebagai salah justru memperkuat rasa takut dan bersalah yang sebenarnya tidak perlu ada.
Pada banyak kasus, anak mulai bertanya: “Apakah musibah ini salahku?” Pertanyaan itu jarang terucap keras, tetapi berputar terus di kepala. Di sinilah pentingnya sosok pendamping yang paham psikologi anak, seperti Kak Seto. Ia hadir bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga meluruskan logika salah tersebut: bencana bukan hukuman, bukan akibat kenakalan, bukan hasil perbuatan satu anak. Meluruskan persepsi salah seperti ini menjadi langkah awal mencegah trauma berkepanjangan.
Kita sering mengira anak akan pulih sendiri seiring waktu. Asumsi ini keliru. Tanpa pendampingan, rasa takut, mimpi buruk, hingga kecenderungan menyalahkan diri bisa melekat hingga dewasa. Mengganti pola komunikasi menyalahkan dengan kalimat validasi amat penting. Misalnya, “Kamu berani sekali bertahan sejauh ini” alih-alih “Kamu jangan rewel, bikin repot saja.” Perbedaan terlihat sederhana, tetapi dampak psikologisnya jauh. Pilihan kata menentukan apakah luka batin anak mengering atau justru semakin dalam.
Peran Kak Seto: Mengubah Trauma Menjadi Ruang Belajar
Kak Seto dikenal luas sebagai pembela hak anak. Kehadirannya di tengah anak-anak penyintas bencana memberi pesan kuat: mereka tidak salah karena menangis, takut, atau bingung. Ia mengajak anak bermain, bernyanyi, bercerita. Dari luar tampak seperti hiburan biasa, namun sebenarnya itu strategi psikologis. Aktivitas kreatif membantu anak mengekspresikan emosi tanpa rasa takut disalahkan. Mereka belajar bahwa sedih, marah, cemas, semuanya boleh diungkap, bukan disembunyikan.
Pendekatan ini kontras dengan pola tradisional yang kerap menuntut anak kuat secara instan. Nasihat seperti “Jangan cengeng, orang lain lebih susah” terdengar bijak, tetapi sering salah sasaran. Kalimat itu menutup ruang ekspresi, memaksa anak memendam emosi. Kak Seto memilih jalan berbeda: ia mendengarkan, lalu mengajak anak mengolah perasaan melalui permainan. Sikap ini menggeser fokus dari menyalahkan emosi menjadi memahami emosi. Anak merasa diterima, bukan diadili.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat apa yang dilakukan Kak Seto sebagai koreksi atas kebiasaan kita memaknai kekuatan secara salah. Kuat bukan berarti tidak menangis. Kuat berarti berani mengakui rasa takut lalu mencari cara sehat untuk menghadapinya. Di titik ini, posko bermain yang ia gagas menjadi simbol penting. Ruang tersebut bukan sekadar tempat mengisi waktu, tetapi laboratorium kecil untuk belajar bahwa tidak ada perasaan yang salah. Yang perlu diatur adalah cara menyalurkannya.
Lingkungan Dewasa: Antara Perlindungan dan Sikap Menyalahkan
Upaya pemulihan psikologis anak sering terbentur pola pikir orang dewasa. Banyak orang tua mengakui pentingnya kesehatan mental, namun masih mudah melempar kata “salah” ke anak. Di posko, saat anak bertanya berulang kali tentang rumah yang hilang, jawaban ketus “Sudah, diam, kamu selalu salah waktu” segera memutus komunikasi. Sebaliknya, jawaban sabar seperti “Ayah juga sedih, kita belum tahu kapan bisa pulang, tapi kita hadapi bersama” menumbuhkan rasa aman. Refleksi terpenting dari peristiwa di Sumatera Barat ini: bencana mungkin tidak dapat kita cegah, tetapi cara kita merespon anak sepenuhnya berada di tangan kita. Setiap orang dewasa punya pilihan untuk menghentikan rantai kata-kata menyalahkan dan menggantinya dengan bahasa yang menenangkan, meneguhkan, serta memulihkan harga diri anak. Akhirnya, pemulihan pascabencana bukan hanya urusan tenda, makanan, atau bantuan materi, tetapi juga keberanian kolektif untuk mengakui bahwa selama ini kita terlalu mudah menjadikan anak sebagai pihak yang salah.
Membangun Ritual Sehari-hari yang Menyembuhkan
Setelah sorotan media mereda, anak-anak masih hidup bersama sisa rasa takut. Di titik inilah ritual kecil sehari-hari menjadi penting. Rutinitas sederhana seperti jadwal bermain, belajar ringan, dan cerita sebelum tidur dapat mengembalikan rasa normal. Namun, lagi-lagi, kata “salah” perlu disaring. Melarang anak bermain dengan alasan situasi belum stabil sering berujung pada pesan terselubung bahwa bersenang-senang itu salah saat musibah. Padahal, tawa justru bagian dari terapi.
Pada konteks penyintas, orang tua kerap diliputi rasa bersalah karena merasa tidak mampu memberi fasilitas lengkap. Perasaan itu kadang dihempaskan ke anak melalui marah tanpa sebab. Inilah lingkaran salah tafsir yang mesti diputus. Anak lalu mengira dirinya penyebab kemarahan, bukan situasi bencana. Pendamping seperti Kak Seto berusaha mengarahkan ulang: membantu orang tua menyadari bahwa mengakui kelelahan tidak salah, selama tidak menjadikan anak sasaran pelampiasan.
Dari sudut pandang saya, pendekatan terbaik ialah membangun ritual yang melibatkan dialog. Misalnya, sebelum tidur ada sesi singkat tanya jawab: “Apa hal tersulit hari ini?” dan “Apa hal kecil yang membuatmu sedikit senang?” Pertanyaan itu mengirim sinyal bahwa merasa buruk tidak salah, tetapi tetap mungkin menemukan secercah kenyamanan. Kalau dilakukan konsisten, anak belajar memetakan emosi. Bukan sekadar menempelkan label salah pada perasaan negatif, melainkan mengenalinya, menamainya, lalu pelan-pelan mengelolanya.
Pendidikan Emosi Sejak Dini: Investasi Pascabencana
Trauma bencana sering meninggalkan jejak panjang pada perkembangan anak. Konsentrasi belajar berkurang, mudah kaget, atau tiba-tiba marah tanpa alasan jelas. Di sini pendidikan emosi menjadi kebutuhan mendesak, bukan pelengkap. Program pendampingan yang melibatkan permainan peran, menggambar, atau menulis jurnal sederhana bisa membantu anak menata ulang pengalaman. Saat mereka menggambar rumah lama lalu rumah baru, misalnya, itu bukan sekadar aktivitas, tetapi proses menerima kehilangan tanpa menyimpulkan bahwa mereka penyebab salah dari semua musibah.
Pada banyak budaya, bicara tentang perasaan masih dianggap memalukan. Anak yang terlalu sering mengeluh langsung dicap manja, salah asuhan, atau lemah. Padahal, diam bukan tanda ketegaran. Diam sering berarti kebingungan yang belum menemukan ruang. Pendekatan Kak Seto yang mengutamakan dialog dan permainan justru mematahkan stigma ini. Ia menunjukkan bahwa mengajak anak bicara jujur tentang takut, marah, cemburu, bahkan rasa iri terhadap teman yang rumahnya selamat, bukan tindakan salah, melainkan langkah sehat.
Secara pribadi, saya melihat pendidikan emosi pascabencana sebagai investasi sosial. Anak yang terbiasa memproses emosi dengan sehat akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak mudah menyalahkan diri atau orang lain saat krisis baru datang. Mereka belajar membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Pola pikir ini sangat penting di negara rawan bencana seperti Indonesia. Tanpa keterampilan emosi, setiap peristiwa alam berpotensi melahirkan generasi yang diam-diam merasa dirinya selalu pihak yang salah.
Menutup Luka, Mengganti “Salah” dengan “Belajar”
Pada akhirnya, kisah pendampingan anak penyintas bencana di Sumatera Barat menyodorkan cermin untuk kita semua. Sejauh mana kita sadar bahwa kata “salah” telah terlalu murah keluar, terutama kepada mereka yang paling rentan? Bencana menguji infrastruktur, tetapi juga menguji cara kita berbicara. Kehadiran tokoh seperti Kak Seto menunjukkan bahwa pemulihan sejati tidak hanya mengumpulkan bantuan, melainkan membangun kembali cara pandang terhadap anak. Mereka bukan korban pasif, bukan pula sumber masalah. Mereka adalah manusia kecil yang berhak merasa takut tanpa dicap salah, berhak tertawa di tengah puing, dan berhak mendapat ruang aman untuk menjahit kembali rasa percaya dirinya. Jika ada pelajaran terbesar, mungkin itu: berhenti menjadikan anak sasaran kalimat menyakitkan, lalu belajar mengubah setiap “kamu salah” menjadi “kita belajar bersama melewati ini.”